Kupas Tuntas Sejarah Streetwear!

Sejarah streetwear terhitung belum terlalu lama. Akarnya ada di skena skate, surf, dan hip-hop di East dan West Coast Amerika sepanjang kurun 1980an hingga 90an. Bagi orang-orang yang memakainya, streetwear merupakan tanda bahwa mereka terlibat dalam suatu gerakan yang berada di luar industri fashion, jauh dari pakaian retail yang diproduksi secara masal maupun pakaian yang diproduksi oleh label-label desainer papan atas. Pada saat itu, streetwear berada di area abu-abu yang berada di antara keduanya.

“Menurut saya, streetwear artinya semangat DIY,” kata David Fischer, penggagas situs streetwear Highsnobiety, saat menjelaskan subkultur fashion. “Artinya skateboard, musik, kaos graphic; masa muda dan menjadi bagian dari sesuatu…” kata Ryan Willms, fotografer dan konsultan kreatif Stüssy. Ryan merasa definisi streetwear dari dulu enggak terlalu jelas. Justru menurutnya, akar dari streetwear adalah orang-orang yang ada pada saat lahirnya streetwear: orang-orang seperti Mark Gonzales, Basquiat, Shawn Stussy, dan Malcolm McLaren.


            Tapi di tahun 2017, penggemar streetwear terbelah menjadi dua macam: yang hedon dan yang emang ngerti streetwear walaupun bokek. Yang satu kebelet beli sneaker Triple-S dari Balenciaga yang harganya 800 dolar, yang satunya pengen beanie 20 dolar aja. Untuk hadiah natal, anak-anak jaman sekarang sih udah nggak minta handphone atau konsol game baru, tapi baju yang selain mahal juga susah didapetinnya—pokoknya nyusahin ortu. Merk yang bertanggungjawab atas berubahnya cara berpakaian manusia modern adalah Supreme.

Setelah kami cek, memang besar banget nilainya. Awal tahun ini, James Jebbia, penggagas Supreme, menjual 50 persen sahamnya kepada perusahaan investasi The Carlyle Group seharga 500 juta dolar, yang artinya seluruh label streetwear tersebut berharga 1 milyar dolar. Menurut gosip yang beredar, Jebbia tadinya ragu-ragu untuk membeberkan angka tersebut, soalnya takut mempengaruhi kredibilitas sebuah label yang dibangun berdasarkan youth culture dan kebebasan. Tapi dengan fokus konsumer saat ini yang lebih terpusat kepada estetika daripada latar belakang brand itu sendiri, emangnya mereka masih peduli?