NGULIK-NGULIK THE GREATEST SHOWMAN

Tebsholic, apa lo penggemar film musikal? Kalo iya, film ini wajib banget lo tonton! Recommended banget deh pokoknya. Mau tau apa? Yuk cari tau!

Kisah hidup PT. Barnum (5 Juli 1810 - 7 April 1891), seorang penghibur dan pebisnis di dunia pertunjukan, menjadi inspirasi yang menghadirkan film The Greatest Showman. Film dengan sentuhan musikal ini menghadirkan lagu-lagu yang catchy serta menghibur.

Film ini menceritakan kisah menakjubkan dan penuh perjuangan Barnum yang berusaha untuk memperjuangkan cintanya pada Charity yang kehidupannya berbanding terbalik dari dirinya. Perjuangan tersebut akhirnya berbuah manis. Mereka berhasil membangun keluarga, walaupun kehidupannya jauh dari kemapanan.

Kegagalan yang merundung Barnum mendorongnya untuk mewujudkan “ide-ide gila” yang masih dianggap aneh di masa 1800–an. Dirinya menghadirkan panggung pertunjukan yang dilakukan oleh orang-orang unik yang tidak diterima oleh sebagian orang-orang di lingkungan mereka. Barnum memulai bisnis pertunjukannya dari nol dengan berbagai rintangan yang menerpa perjalanannya untuk membesarkan bisnis pertunjukannya.

The Greatest Showman selain berusaha menggambarkan kehidupan jatuh bangun PT. Barnum dalam membangun bisnis pertunjukannya, maupun percintaan antara Phillip Carlyle dan Anne Wheeler, turut juga dipaparkan masalah sosial yang sepertinya langgeng pada masa itu, yaitu menghargai perbedaan. Diceritakan bahwa Barnum merangkul orang-orang unik yang bagi sebagian orang dianggap sebagai aib karena perbedaan yang dimiliki, seperti Wheeler bersaudara yang berkulit hitam, Tom Thumb yang mengidap Dwarfisme dan kru Barnum lainya yang memiliki kelainan fisik, sehingga tidak disukai oleh sebagian orang di sekitar mereka. Dari fakta itu, Barnum mengambil kesempatan dan memulai pertunjukan yang menghadirkan kru pertunjukan yang “berbeda” dari yang lain.

Sepintas, apa yang dilakukan Barnum dengan mempertontonkan kru pertunjukannya yang berkelainan fisik kepada publik, dianggap sebagai jalan yang cenderung picik. Kelemahan dari film ini terlihat dari penggambaran sosok Barnum yang terlihat begitu pahlawan dan humanis. Sebenarnya sosok Barnum dalam menjalankan pertunjukannya, seringkali penuh manipulasi. Barnum dalam catatan sejarah bahkan dikenal sebagai seorang penghibur dengan kisah-kisah hoax yang fenonemal agar masyarakat mau menonton pertunjukannya.

Namun, apa yang telah Barnum lakukan tetap menjadi hal yang perlu direnungkan, mengenai bagaimana ia mampu merangkul dan menerima orang-orang yang tidak diterima oleh lingkungan mereka karena apa yang mereka miliki. Selain itu, daripada bisnis, pertunjukan Barnum lebih seperti usaha untuk merayakan perbedaan yang pada masa itu penuh dengan diskriminasi terhadap mereka yang memiliki keunikan.

Nah, Tebsholic, makin penasaran dengan film The Greatest Showman? Yuk langsung nonton!