CERITA UNIK DARI LAGU-LAGU “EFEK RUMAH KACA”

Efek Rumah Kaca dikenal sebagai band dengan lirik yang cerdas, Tebsholic. Bukan hanya pandai dalam mengolah kata, mereka juga pintar memilih tema. Kepedulian sosial dari para personel membuat lagu-lagu mereka terasa dekat dengan realitas. Bukan hanya bumbu, tapi juga observasi menarik tentang kehidupan.

Cholil Mahmud (vokalis/gitaris) dan Adrian Yunan (bas) adalah penulis lirik utama dari lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Dipadukan menjadi lirik yang punya cerita. Yuk ah di Cek!

 

Di Udara

Salah satu lagu Efek Rumah Kaca paling terkenal ini didedikasikan untuk aktivis Munir nih Tebsholic. Dengan beat mengentak, "Di Udara" selalu berhasil membuat penonton terbawa emosi. Lagu ini diciptakan Cholil setelah menonton film dokumenter Garuda's Deadly Upgrade yang menguak beberapa keganjilan dalam kematian Munir.

Lagu "Di Udara" kemudian menginspirasi tiga sekawan Zelva, Nando, dan Deva untuk membuat zine bernama sama. Meskipun umurnya tergolong singkat, tapi zine yang dibuat murni oleh penggemar ini banyak menyalurkan ide-ide Efek Rumah Kaca ke dalam bentuk tulisan artikel. Ngeriiiii

 

Sebelah Mata

Lagu "Sebelah Mata" ditulis oleh Adrian Yunan terinspirasi dari penyakit yang mempengaruhi penglihatannya. Kini penglihatannya kian memburuk dan membuatnya terpaksa berhenti main bas untuk Efek Rumah Kaca. Meski begitu, ia tetap berkarya dan menjalani solo karier.

Tak berhenti di lagu, Efek Rumah Kaca juga menunjukkan kepedulian lewat kolaborasi dengan Komunitas SA'AE yang fokus mewujudkan ruang-ruang berekspresi bagi teman-teman tuna netra. Mereka sempat merilis merchandise berisikan potongan lirik "Sebelah Mata" dalam huruf Braille.

 

Melankolia

Lagu "Melankolia" ditulis Cholil Mahmud selepas kepergian ayahnya. Dalam wawancara bersama Rolling Stone Indonesia pada tahun 2008, ia mengungkapkan kalau inilah lagu pertama yang Cholil puas menuliskannya. "Gue nggak menyiratkan itu buat bokap. Tapi kalau dalam keadaan sedih, coba menikmati. Jadi lebih baik," ceritanya saat itu.

"Melankolia" juga dianggap Akbar Bagus Sudibyo sebagai lagu yang mendefinisikan sound Efek Rumah Kaca pada awal karier mereka. Lagu ini kemudian pernah di-remix oleh Aghi Narottama untuk album ERK RMX.

 

Cinta Melulu

Bersama lagu "Di Udara", lagu ini termasuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik versi Rolling Stone Indonesia. Sebagai lagu paling populer yang pernah dibuat trio tersebut, lagu ini sempat dibawakan ulang dalam berbagai versi oleh Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR) dan Alexa. OM PMR memparodikannya menjadi sindiran tentang acara musik pagi hari, sedangkan Alexa membawakannya dengan durasi lebih panjang.

Lagu ini juga membuat Efek Rumah Kaca diakui publik mainstream lewat Anugerah Musik Indonesia 2008 di mana mereka dinominasikan untuk kategori Karya Produksi Alternative Terbaik.

 

Debu-Debu Bertebangan

Lagu yang mengambil bait liriknya dari surat Al-Ashr ini diciptakan Cholil pada tahun 1999. Dalam sebuah wawancara, ia menjelaskan kalau lagu ini dibuat karena terinspirasi pengalaman masa kecilnya saat sering membaca surat tersebut.

"Debu-debu Berterbangan" sering dianggap sebagai satu-satunya lagu religius dari Efek Rumah Kaca. Meski begitu, Adrian pernah menulis pada situs Efek Rumah Kaca bahwa lagu-lagu lainnya juga mempunyai sisi spiritualitas tersendiri. Dalam tulisan berjudul Spiritualitas Menuntun Kitatersebut, ia mengatakan: "Kalau agama lahir untuk menyejahterakan umat, apa yang lebih baik dari melakukan hal itu dalam bentuk apa pun?"

 

Gimana? Ada yang terinspirasi dengan lirik-lirik tersebut?